Nusantara dikenal dengan keragaman adat dan suku, namun mayoritas mengajarkan filosofi toleransi dan persaudaraan. Harmonisasi menjadi cara berpikir leluhur yang diturunkan ke generasi berikutnya. Di Kabupaten Banggai, terdapat Desa Honbola di Kecamatan Batui, sekitar 3 kilometer dari ibu kota kecamatan. Nama "Honbola" berarti "daun lebar," melambangkan wadah kebersamaan dalam menjalin silaturahmi persaudaraan. Desa ini mengedepankan persatuan tanpa perbedaan kasta atau asal usul. Filosofi Honbola telah ada sejak warga tinggal di perkampungan tua di pegunungan Dusun Seseba, sebelum pindah ke daerah dekat pantai pada era pemerintahan Badarusallam sekitar 1950. Saat menjabat sebagai kepala distrik dan Bosanyo (pemimpin adat), Badarusallam mengajak warga Honbola bermukim di wilayah distrik untuk mendekatkan mereka pada layanan pemerintah, pendidikan, dan kesehatan. Meski pindah, warga tetap berkebun di Seseba. Perpindahan ini memperkuat makna filosofi Honbola sebagai "daun lebar" yang mempersatukan masyarakat. Kebiasaan saling berbagi, seperti berbagi hasil panen atau ikan, menjadi budaya yang dijaga. "Kami tidak terpecah oleh perbedaan kepercayaan atau suku, kami semua merasa bersaudara," tutur seorang warga generasi 60-an.
